Berita

Buletin SKDR Minggu Epidemiologi ke-33 Tahun 2025 Puskesmas Kratonan - Kota Surakarta

Buletin SKDR Pekan ke-33 Puskesmas Kratonan

Situasi Penyakit Potensial KLB Minggu ke-33 (11–16 Agustus 2025)

Puskesmas Kratonan terus berkomitmen menjaga kesehatan masyarakat melalui pemantauan penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) setiap minggu. Pada pekan ke-33 tahun 2025, tercatat 197 kasus penyakit potensial KLB dengan pola distribusi yang menunjukkan tren penting bagi kewaspadaan dini. Berikut adalah rangkuman lengkap yang perlu menjadi perhatian bersama:

📌 Gambaran Umum Kasus

ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)

Kasus ISPA masih menjadi penyakit dengan jumlah tertinggi, yaitu 191 kasus. Distribusi kasus menunjukkan sebaran cukup merata, dengan konsentrasi terbesar di Kelurahan Joyontakan dan Danukusuman. Dibandingkan pekan sebelumnya, jumlah kasus relatif stabil (pekan 32: 197 kasus → pekan 33: 191 kasus). Angka yang tetap tinggi ini menunjukkan bahwa ISPA masih menjadi beban kesehatan utama, terutama pada musim pancaroba.

Suspek Demam Tifoid

Pada pekan ke-33 tercatat 4 kasus suspek demam tifoid, dengan 1 kasus berasal dari Kratonan dan 3 kasus dari Joyontakan. Jumlah ini mengalami kenaikan dibanding pekan sebelumnya (pekan 32: 2 kasus). Lonjakan ini menandakan adanya kemungkinan peningkatan paparan, khususnya melalui makanan dan minuman yang kurang higienis.

Diare Akut

Kasus diare akut tercatat 1 kasus di wilayah Joyontakan. Jumlah ini menurun signifikan dibanding pekan ke-32 yang mencapai 7 kasus. Meskipun turun, diare tetap menjadi penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat berkembang cepat jika terjadi penularan melalui air atau makanan yang terkontaminasi.

 Disentri (Diare Berdarah)

Tercatat 1 kasus disentri di Kelurahan Joyontakan. Kasus ini menjadi perhatian khusus karena memunculkan alert SKDR yang telah diverifikasi oleh petugas surveilans. Disentri adalah salah satu penyakit indikator penting dalam sistem kewaspadaan dini, karena dapat menular cepat dalam lingkungan dengan sanitasi kurang memadai. Kasus ini harus dipantau secara ketat untuk mencegah potensi klaster.

🔎 Analisis Tren Pekan 31–33

ISPA: relatif stabil tinggi (186 → 197 → 191 kasus). 

Tifoid: meningkat (3 → 2 → 4 kasus), dengan konsentrasi kasus di Joyontakan.

Diare Akut: fluktuatif (1 → 7 → 1 kasus), menunjukkan pengaruh faktor lingkungan.

Disentri: muncul 1 kasus pada pekan 33, menjadi alert penting yang menandakan adanya risiko baru di masyarakat.


Secara keseluruhan, wilayah Joyontakan menjadi fokus utama karena mendominasi jumlah kasus diare, tifoid, dan disentri, selain ISPA yang juga tinggi. Hal ini memperlihatkan perlunya perhatian khusus terhadap faktor lingkungan, perilaku hidup bersih, serta akses air minum yang aman di wilayah tersebut.


📢 Rekomendasi Tindak Lanjut

ISPA

Edukasi etika batuk, penggunaan masker, menjaga ventilasi rumah, dan mengurangi paparan asap rokok. Penguatan deteksi dini ISPA di sekolah-sekolah melalui UKS dan kader kesehatan.

Demam Tifoid

Penyuluhan terkait konsumsi makanan matang dan air minum yang dimasak.Pemantauan higienitas jajanan sekolah dan pedagang makanan di wilayah Joyontakan. Pengambilan sampel laboratorium untuk konfirmasi kasus suspek.

Diare Akut dan Disentri

Surveilans aktif di sekitar kasus, termasuk penelusuran kontak rumah tangga. Monitoring depot air minum isi ulang, sarana sanitasi, dan kebersihan lingkungan. Penyediaan oralit dan zinc untuk pengobatan dini diare di layanan kesehatan dan posyandu.

Penguatan SKDR

Menjaga ketepatan waktu dan kelengkapan pelaporan mingguan.

Mengembangkan visualisasi tren penyakit (kurva epi, grafik tren) agar lebih mudah dipahami lintas sektor.

Koordinasi dengan kelurahan, sekolah, serta tokoh masyarakat untuk mendukung intervensi kesehatan.

✨ Penutup

Pekan ke-33 menandai pentingnya kewaspadaan terhadap kasus disentri yang muncul di Joyontakan, peningkatan suspek demam tifoid, serta tetap tingginya ISPA sebagai penyakit dominan. Situasi ini menunjukkan bahwa peran masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Mari bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan dan minuman yang aman, serta segera memeriksakan diri ke puskesmas bila mengalami gejala. Dengan deteksi dini dan pencegahan yang baik, kita bisa mencegah terjadinya KLB di wilayah Puskesmas Kratonan.

Berita Lainnya